Admin Dina | 2021-01-19

Analisis Fundamental: Pening tapi Penting

“Ibarat membeli kucing dalam karung”

Pasti peribahasa di atas tidak asing di telinga kita. Ya peribahasa yang memiliki arti membeli sesuatu tidak dengan melihat barangnya ternyata juga berlaku di dalam aktivitas investasi saham juga lho! Di dalam dunia investasi terutama investasi saham, seorang investor harus terlebih dahulu mengetahui pasti mengenai produk investasi yang akan dibeli.

Karena salah satu prinsip dasar di dalam dunia investasi adalah “buy what you know, and know what you buy”. Artinya dalam melakukan kegiatan investasi, seorang investor wajib mengetahui tentang produk investasi yang dibelinya, jangan sekali-kali membeli produk investasi yang tidak kita kenali dengan jelas dan juga tidak kita kenali nilai dan risikonya. Hal ini tentu bertujuan agar para investor terhindar dari risiko – risko kerugian di masa mendatang.

“Bagaimana ya caranya?”

Di dalam dunia investasi, ada 2 cara untuk menilai suatu saham yaitu; analisis fundamental dan analisis teknikal. Kali ini kita akan membahas analisis fundamental terlebih dahulu ya.

Analisis fundamental adalah metode analisis yang mempelajari hal yang berkaitan dengan kondisi dasar (fundamental) sebuah perusahaan secara keseluruhan baik secara kuantitatif (keuangan) maupun kualitatif (non-keuangan).

Analisis fundamental menggunakan laporan keuangan sebagai basis untuk menilai atau valuasi saham dengan melihat 3 hal penting, yaitu:

1. Menilai kinerja dan kondisi perusahaan, apakah memiliki performance keuangan yang berkesinambungan

2. Menetapkan acuan harga wajar saham, yang akan menjadi patokan untuk melakukan keputusan jual beli saham

3. Memonitor dan mengevaluasi saham secara rutin, untuk memastikan apakah saham masih layak investasi atau tidak

Terdapat dua pendekatan utama dalam analisis fundamental, yaitu pendekatan top down approach dan nilai intrinsik serta rasio keuangan.

1. Pendekatan Top Down Approach

Di dalam pendekatan top down approach, analisis dilakukan melalui 3 tahap, yaitu kondisi ekonomi makro, industri, dan kondisi perusahaan

Kondisi ekonomi makro, sebelum berbicara mengenai keadaan suatu perusahaan kita wajib mengetahui mengetahui kondisi ekonomi suatu negara secara keseluruhan. Salah satu indikator ekonomi yang dapat digunakan adalah kebijakan suku bunga, apabila tingkat suku bunga tinggi, investor akan memilih untuk menyimpan uangnya di perbankan dan hal ini dapat menghambat pertumbuhan bisnis perusahaan, dan sebaliknya apabila tingkat suku bunga rendah maka investor akan cenderung menginvestasikan uangnya ke instrumen saham sehingga mendukung pertumbuhan perusahaan.

Selain itu terdapat indikator ekonomi lainnya yaitu inflasi, pertumbuhan ekonomi dan juga stabilitas ekonomi serta kondisi politik suatu negara. Investor tentunya akan cenderung memilih negara yang memiliki stabilitas ekonomi dan politik yang stabil dan aman untuk melakukan kegiatan investasi.

Kondisi industri, selanjutnya untuk dapat memahami analisis fundamental, kita juga dapat melihat kondisi industri di mana suatu perusahaan berada. Sektor industri juga ikut mempengaruhi naik turunnya harga saham suatu perusahaan. Industri yang bertumbuh pesat juga akan menyebabkan naiknya harga saham perusahaam tersebut.

Dengan mengetahui kondisi industri suatu negara, seorang investor akan mengetahui sektor apa yang sedang berkembang, menurun dan juga industri mana yang memiliki prospek yang cerah, sehingga hal tersebut dapat membantu investor dalam membuat keputusan dalam berinvestasi.

Kondisi Perusahaan, setelah mengetahui dan memahami kondisi makro ekonomi, dan kondisi industri, investor juga harus dapat menilai kondisi fundamental suatu perusahaan karena pastinya akan mempengaruhi pergerakan harga saham perusahaan tersebut.

Investor harus dapat menilai kondisi perusahaan melalui beberapa indikator seperti, laporan keuangan perusahaan, analisis terhadap produk perusahaan dan pemasarannya, pertumbuhan pendapatan, tingkat perolehan profit, efisiensi dan efektifitas kinerja manajemen, keunggulan bersaing perusahaan, model bisnis perusahaan dan sebagainya

2. Pendekatan Nilai Intrinstik dan Rasio Keuangan

Setelah melakukan pendekatan analisis Top Down approach, hal selanjutnya yang juga penting untuk dilakukan adalah menghitung nilai wajar atau nilai intrinsik dari sebuah saham. Nilai wajar ini kemudian akan dibandingkan dengan harga pasar saham tersebut, sehingga investor dapat mengetahui wajar atau tidaknya harga saham tersebut.

Untuk menghitung nilai wajar atau nilai intrinsik dari sebuah saham, investor dapat memulai menganalisa kondisi keuangan perusahaan dengan memanfaatkan laporan keuangan perusahaan pada suatu saat atau selama periode tertentu seperti laporan neraca dan laporan laba rugi. Perusahaan publik yang terdaftar di bursa wajib mempublikasikan laporan keuangannya.

Ada 6 rasio keuangan penting dalam analisis fundamental yang sering digunakan para analis fundamental dalam memilih saham, yaitu:

a. Earning Per Share (EPS), yaitu perbandingan antara laba bersih dan lembar saham yang beredar. EPS yang bertumbuh dan memiliki trend postif menunjukkan bahwa perusahaan tersebut juga bertumbuh dengan baik.

b. Price to Earning Ratio (PER), yaitu perbandingan antara harga pasar saham dan laba per saham dari perusahaan. PER juga menjadi petunjuk mengenai lama waktu yang dibutuhkan untuk pengembalian modal yang digunakan untuk membeli saham.

c. Price to Book Value (PBV), yaitu rasio yang menggambarkan seberapa besar pasar menilai harga sebuah perusahaan dibandingkan kekayaan bersihnya. Umumnya investor disarankan untuk mencari saham yang memiliki nilai PBV lebih rendah daripada rata-rata PBV industri.

d. Return on Equity (ROE), yaitu rasio perbandingan antara laba bersih dan total kekayaan bersih perusahaan. ROE menjadi indikator yang menunjukkan efisiensi dari perusahaan tersebut, investor akan cenderung memilih saham yang memiliki ROE yang stabil.

e. Dividend yield (DY), yaitu rasio perbandingan antara dividen per saham dan harga sahamnya di pasar. DY yang besar mengindikasikan bahwa laba bersih perusahaan dalam keadaan stabil. Namun perlu dicatat, tidak semua emiten di Bursa Efek Indonesia membayar dividen.

f. Debt to Equity Ratio (DER), yaitu rasio perbandingan antara jumlah utang dan kewajiban yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan modal bersih perusahaan. Perusahaan dengan DER yang kurang dari 1 dianggap lebih baik dan potensial untuk dipilih karena perusahaan tersebut memiliki hutang kebih sedikit dibandingkan modal bersihnya

Secara teknis, analisis fundamental bukanlah teknis analisis yang sulit, apalagi saat ini sudah banyak tersedia tools analisis fundamental. Kamu dapat melakukan screening saham sesuai dengan kriteria fundamental yang diinginkan melalui fitur stock screener pada BIONS. BNI Sekuritas juga memiliki tim analis saham yang profesional dan siap untuk menyediakan rekomendasi – rekomendasi saham harian berdasarkan analisis fundamental bagi nasabah – nasabah BNI Sekuritas

Yuk, buka rekening investasi bersama BNI Sekuritas untuk mendapatkan rekomendasi harian dari tim analis kami.

 

 

Related Tutorial

Author Detail

Admin Dina

Admin Digital Channel

Halo, saya DINA - chatbot BIONS, siap membantu kamu. Untuk memulai percakapan mohon lengkapi data berikut