Admin Dina | 2021-04-19

Faktor Psikologis dalam Investasi Saham

Seiring semakin tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi saham, tentu pengetahuan dasar mengenai investasi saham menjadi suatu hal yang wajib diketahui oleh para investor.

Ternyata dari banyak faktor-faktor yang wajib diketahui investor, faktor psikologis juga turut menjadi indikator yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan pengambilan keputusan penting di dalam suatu kegiatan investasi atau yang biasa dikenal dengan behavioral finance

Yuk kita bahas tentang behavioral finance!

“Apa itu Behavioral Finance?”

Behavioral finance adalah suatu kajian mengenai faktor psikologi yang mempengaruhi investor dalam pengambilan keputusan investasi.

Setelah menerima informasi dan fakta, ada 2 faktor yang mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan dalam berinvestasi yaitu, faktor kognitif dan faktor emosi. Yang menjadi persoalan adalah kedua faktor tersebut dapat dengan mudah mengalami bias atau penyimpangan.

Bias Kognitif

Kognisi adalah proses pemahaman, pengolahan, pengambilan kesimpulan atas suatu informasi atau fakta. Bias kognitif menggambarkan kesalahan sistematis dan penyimpangan dalam proses tersebut.

Jenis Bias Kognitif

1. Anchoring & Adjustment Bias

Pengambilan keputusan dalam kegiatan investasi yang hanya didasari pada satu informasi tertentu tanpa mempertimbangkan informasi dan faktor lainnya.

2. Representativeness Bias

Pengambilan keputusan dalam kegiatan investastasi yang terburu –buru dan tanpa melakukan analisa yang lebih dalam, serta mengandalkan pengalaman masa lalu sebagai acuan keputusan investasinya.

3. Self-Attribution Bias

Investor menganggap kesuksesan investasi semata-mata berkat kemampuan dirinya sendiri dalam menganalisa dan memprediksi, dan apabila terjadi kegagalan investor akan selalu menyalahkan faktor eksternal.

4. Availability Bias

Investor dalam mengambil keputusan investasi hanya berdasarkan kemudahan dan ketersediaan, apa yang tersedia dan paling mudah itulah yang akan menjadi keputusan akhir.

5. Conservatism Bias

Investor cenderung hanya percaya pada penilaian awal dan akan menolak serta menyangkal apabila terjadi perubahan informasi dan kondisi pada investasinya. Hal ini berakibat investor cenderung terlambat dalam bereaksi terhadap informasi – informasi terbaru.

6. Illusion of Control Bias

Investor memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kendali penuh atas tercapainya kinerja investasi yang dimilikinya.

7. Hindsight Bias

Investor dalam mengambil keputusan investasinya hanya berdasarkan keberhasilan investasi di masa lalunya yang cenderung dilebih-lebihkan dan cenderung melupakan dan tidak mau mengambil pelajaran dari kegagalan investasi yang pernah dialami.

8. Confirmation Bias (Selection Bias)

Investor cenderung hanya mencari informasi dan fakta yang mendukung sudut pandangnya dan mengabaikan informasi dan fakta yang berlawanan dengan sudut pandangnya.

Bias Emosional

Emosi lebih mengedepankan perasaan dan sikap impulsif dibandingkan dengan fakta. Bias Emosional menggambarkan penyimpangan dalam pengambilan keputusan karena mengabaikan fakta.

Jenis Bias Emosional

1. Loss Aversion Bias

Investor dalam melakukan kegiatan investasi merasa dampak kerugian investasi lebih besar dibandingkan dengan kepuasan atas keuntungan investasi, sehingga investor rela untuk mempertahankan investasi yang tidak menguntungkan.

2. Overconfidence Bias

Pengambilan keputusan investasi berdasarkan kepercayaan diri investor yang berlebihan atas informasi fakta yang dimilikinya.

3. Status-Quo Bias

Investor telah merasa nyaman dengan kondisi investasinya dan menolak untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap investasinya.

4. Self-Control Bias

Investor tidak memiliki self-control dan disiplin yang baik dalam proses serta tujuan investasi yang telah ditetapkan oleh dirinya sendiri.

5. Regret-Aversion Bias

Investor memiliki kekhawatiran yang berlebihan saat mengambil keputusan investasi karena khawatir akan dampak – dampak negatif yang mungkin terjadi dari keputusan investasi tersebut.

6. Greed Bias

Keinginan investor untuk terus mendapatkan keuntungan dengan cara apapun, tanpa memperhitungkan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki investor.

7.  Endowment Bias

Investor hanya mengandalkan sisi sentimental sebagai dasar mengambil keputusan investasi dan mempertahankannya apa pun kondisinya.

Tanpa disadari faktor bias kognitif dan emosional juga banyak berperan dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan investasi, terutama saat di tengah kondisi pasar yang berfluktuatif.

Tetapi kamu tidak perlu khawatir karena hal tersebut merupakan hal alamiah dan wajar terjadi pada setiap manusia. Kedua hal tersebut dapat diminimalkan dan diantisipasi dengan menerapkan strategi - strategi berikut:

1. Menganalisa Informasi Secara Komperhensif dan Obyektif

Umumnya sebelum mengambil keputusan, investor akan melakukan analisa terlebih dahulu. Dengan menganalisa informasi dan fakta secara komperhensif dan obyektif diharapkan para investor dapat memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Analisa yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan mempelajari laporan keuangan fundamental perusahaan dan mengevaluasi kinerja bisnis perusahaan. Dengan menjadi nasabah BNI Sekuritas kamu dapat mempelajari fundamental dan kinerja perusahaan melalui report rekomendasi saham yang telah disiapkan oleh analis- analis profesional BNI Sekuritas.

2. Mengenali Profil Risiko dan Tingkat Toleransi Risiko

Sebelum memilih instrumen investasi, investor juga perlu mengidentifikasi profil risiko  diri sendiri. Dengan mengetahui profil risiko diri sendiri, tentunya dapat membantu investor dalam mengetahui tingkat toleransi risiko pribadi sehingga dapat menjadi tolak ukur kesiapan investor untuk menerima kerugian yang mungkin terjadi dalam berinvestasi.

3. Rebelancing Portofolio Secara Berkala

Seiring berjalannya waktu, kondisi di pasar modal tentunya mengalami kenaikan dan penurunan. Tingkat volatilitas yang tinggi inilah yang dapat membuat alokasi portofolio investor  tidak sesuai dengan aset alokasi awal yang investor tetapkan. Untuk itu, investor perlu melakukan Rebalancing portofolio.

Rebalancing portofolio merupakan strategi menyesuaikan kembali alokasi portofolio sesuai dengan tujuan awal investasi investor.

4. Membuat dan Menerapkan Investing Plan

Dengan memiliki dan menerapkan investing plan tentunya membantu investor untuk mengenali dan memahami bias dan kecenderungan perilaku individu mereka sendiri, serta memahami kesalahan perilaku keuangan yang umum dilakukan oleh investor. Melalui investing plan tentunya dapat menahan investor untuk bertindak tidak rasional, impulsif dan juga dapat meredakan emosi sesaat sebelum investor mengambil keputusan dalam berinvestasi.

Kecenderungan manusia untuk melakukan penyimpangan atau bias ini memang tertanam inherent di dalam diri setiap manusia, dan merupakan hal yang alamiah serta tidak bisa dihindari. Tetapi dengan menerapkan strategi –strategi tersebut  di atas diharapkan dapat meminimalisir dampak dari bias kognitif dan bias emosional, sehingga kamu bisa tetap mencapai tujuan investasi kamu.

Related Tutorial

Author Detail

Admin Dina

Admin Digital Channel

Halo, saya DINA - chatbot BIONS, siap membantu kamu. Untuk memulai percakapan mohon lengkapi data berikut